Ketakutan dan Ramalan

Hotel di Padang - Timur Tengah penuh dengan pembicaraan perang. Memang tidak hari ini, besok atau bahkan mungkin tahun depan, tetapi masa depan di sana memang suram. Orang yang harus berhadapan dengan masalah suram Timur Tengah yang begitu banyak kesulitan untuk melihat masa depan di wilayah itu cerah.

Padang - Pada akhir tahun ini, jika sanksi PBB tidak bisa membuat Iran menghentikan kegiatan yang dipandang banyak negara sebagai program senjata nuklir, partai berhaluan perang Israel akan mendorong aksi militer dari negara itu.

Lebanon selatan sekali lagi akan panas. Penghinaan dan ancaman sudah saling dilemparkan antara Suriah, Israel dan Hezbollah. Di Washington DC para pengamat mengatakan Suriah telah mengirim senjata yang lebih besar dan lebih canggih dalam jumlah banyak ke kelompok Hezbollah yang merupakan sekutunya di Lebanon.

Israel beranggapan akan ada perang lagi di Lebanon dan telah melatih militernya untuk memenangkan perang setelah tahun 2006 kalah di sana.

Dan kemudian ada krisis antara Amerika Serikat, Israel dan Palestina.

Kunjungan Benjamin Netanyahu ke Washington DC yang gagal memperlihatkan betapa dalam krisis hubungan antara Amerika dan Israel yang terjadi sekarang.

Yang lebih serius lagi, krisis itu berpusat pada masa depan Jerusalem yang merupakan satu-satunya masalah penuh emosi bagi seluruh wilayah Timur Tengah.

Posisi Netanyahu di dalam negeri pun melemah akibat itu, meski para menterinya menyatakan dukungan. Presiden Amerika Serikat Barack Obama tampaknya memandang Netanyahu sebagai bagian dari masalah.

Rincian peristiwa yang terjadi antara Obama dan Netanyahu di Washington mulai muncul ke permukaan secara perlahan.

Tetapi jelas bahwa Amerika menginginkan Israel menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi di kota suci yang diduduki dan direbut Israel pada tahun 1967 itu.

Pemerintah Obama menyimpulkan bahwa sangat tidak mungkin merundingkan perdamaian jika Israel terus menempatkan orang Yahudi di wilayah pendudukan.

Netanyahu berkeras, tanpa henti, bahwa dia menginginkan kesepakatan damai yang bisa menjamin keamanan Israel.

Amerika sepakat soal itu, tetapi tidak sepakat dengan pernyataan Netanyahu bahwa Israel memiliki hak untuk membangun apapun dan dimanapun di Jerusalem.

Klaim Israel bahwa kota itu adalah ibukota kedaulatannya tidak diterima oleh semua sekutunya.Rencana mereka adalah mendapat konsensi dari Netanyahu saat berkunjung ke Washington sehingga Amerika bisa membujuk Palestina untuk terlibat dalam perundingan damai.

Presiden otorita Palestina, Mahmoud Abbas, menarik diri setelah Israel mengumumkan rencana pembangunan gedung besar di pemukiman Yahudi Ramat Shlomo yang berada di wilayah Jerusalem Timur yang diduduki.

Saat itu Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden berada di Jerusalem untuk menghidupkan pembicaraan damai.

Merasa malu dan marah dengan pengumuman itu, dia pun mengutuk rencana pembangunan pemukiman Yahudi tersebut.

Kunjungan Netanyahu ke Washington -bukannya mengakhiri krisis antara Israel dan sekutu terpentingnya- tampaknya malah memperburuk keadaan.

Dan yang terjadi sekarang akibat perselisihan soal Jerusalem adalah kekosongan politik gaya Timur Tengah.

Ketika tidak ada proses politik untuk menyerap perselisihan yang terjadi dan memberi warga sedikit harapan akan masa depan, kekerasan lah yang biasanya terjadi.

Raja Abdullah dari Yordania, yang mendiang ayahnya berdamai dengan Israel tahun 1994, mengatakan kepada koran di Amman bahwa Israel harus memilih antara perang dan perdamaian.
Tekanan Amerika

Raja Abdullah mengatakan jika Israel menginginkan perdamaian, negara itu harus berhenti menempatkan warga Yahudi di wilayah pendudukan.

Departemen luar negeri Amerika Serikat dan Gedung Putih mempekerjakan banyak pakar masalah Timur Tengah yang tahu benar bahwa jikapun mereka bisa memulai perundingan kesempatan untuk berhasil sangat rendah.

Tetapi mereka tetap mencoba jalan itu, karena alternatif yang ada tampaknya jauh lebih buruk.

Tetapi realitasnya adalah baik Israel maupun Palestina tidak dalam kondisi untuk melaukan perundingan, bahkan jika kita berasumsi mereka mau mencobanya (karena ditekan oleh Amerika Serikat).

Pemerintah koalisi pimpinan Netanyahu tergantung pada dukungan kaum nasionalis yang tidak mau berkompromi dengan Palestina.

Presiden otorita Palestina, Mahmoud Abbas, terisolasi dan lemah. Sangat sulit dia bisa menjalankan kesepakatan yang dicapai jika gerakan nasional Palestina terbagi dua antara faksinya Fatah dan Hamas, yang mengendalikan Jalur Gaza.

Barack Obama menyatakan perdamaian Timur Tengah adalah prioritas strategis bagi Amerika Serikat.

Tetapi lihatlah wilayah itu, mulai dari Jerusalem, Beirut, kemudian ke Damaskus, Baghdad, Teheran dan menyebrang ke timur ke Pakistan dan Afghanistan.

Jangankan menciptakan perdamaian, mencegah perang di tempat-tempat yang belum dilanda pertempuran pun sudah sangat sulit, dan bahkan tidak mungkin.
Ketakutan dan Ramalan Ketakutan dan Ramalan Reviewed by Bonita on 20:48:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.