Hotel di Palembang - Di tengah kebingungan publik menebak hasil pekerjaan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPR Bank Century, muncul sebuah buku yang menghebohkan. Judulnya Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century.
Reaksi di masyarakat pun terbelah. Ada yang menganggap karya George Junus Aditjondro ini sebagai fitnah, sehingga buku itu harus ditarik dari peredaran. Kelompok lain menyambut positif buku itu karena bisa dijadikan panduan untuk sebuah penelitian lanjutan.
Kita sepakat kalau buku ini belum sempurna. Penulisannya terkesan terburu-buru dan banyak data yang dipakai adalah data sekunder yang tidak dikonfirmasikan kepada sumber pertama. Kebenaran data itu masih diperdebatkan.
Ada yang berkomentar bahwa buku itu tidak lebih dari kompilasi atas informasi yang tercecer di berbagai media massa. Namun, terlepas dari kekurangannya, keberanian George untuk merilis hasil penelitiannya itu harus disambut positif.
Tentu saja, ini bukan yang pertama kali George menulis soal bisnis para pejabat dan perselingkuhan bisnis dan politik di negeri ini. Sudah sangat sering dia menguak praktik bisnis para presiden yang tidak sehat, termasuk pada masa Presiden Soeharto.
Pekerjaan seperti itu tentu tidak tanpa risiko. Terlalu na�f kalau George melakukan semuanya hanya untuk mendapatkan pujian murahan. Keberanian seperti itu hanya mungkin kalau dia memiliki landasan sikap yang kuat, yakni membela kepentingan publik dari kesewenang-wenangan pemilik modal dan kekuasaan.
Tentu saja adalah hak siapa pun di negeri ini, termasuk mereka yang dirugikan oleh penulis buku ini, untuk membela diri, tak terkecuali dengan menggunakan kekuatan hukum.
George sebagai kritikus sosial bukan malekat yang tentu bisa salah, bisa dikritik bahkan bisa diadili kalau kritiknya berubah menjadi kesewenang-wenangan yang lain.
Terkait dengan kasus Bank Century yang sedang bergulir, keberanian George seharusnya memberi semangat kepada Pansus DPR dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk membuktikan dengan segera dugaan aliran dana dari Bank Century ke sejumlah yayasan dan tim sukes yang terkait dengan Cikeas.
Pembuktian (benar atau salah) harus dilakukan agar bangsa ini tidak terus-menerus hidup dalam rasa saling curiga satu sama lain dan perdebatan yang tidak konstruktif.
Tentu saja ada kemungkinan lain untuk menghentikan kasus ini, yaitu dengan tukar-menukar kepentingan. Misalnya, kasus Bank Century ini dihentikan asalkan kesalahan dari kelompok yang lain tidak diungkit-ungkit, atau kelompok yang lain mendapatkan proyek dan privilese dalam berbisnis.
Untuk itu mereka lalu sepakat membohongi publik. Kebohongan dipakai untuk menutupi kebohongan, kesalahan bertumpuk di atas kesalahan yang lain. Kita lalu membangun sebuah bangsa yang rapuh, karena para pemimpinnya suka pada kesan dan citra yang palsu. Semoga tidak demikian!
Reaksi di masyarakat pun terbelah. Ada yang menganggap karya George Junus Aditjondro ini sebagai fitnah, sehingga buku itu harus ditarik dari peredaran. Kelompok lain menyambut positif buku itu karena bisa dijadikan panduan untuk sebuah penelitian lanjutan.
Kita sepakat kalau buku ini belum sempurna. Penulisannya terkesan terburu-buru dan banyak data yang dipakai adalah data sekunder yang tidak dikonfirmasikan kepada sumber pertama. Kebenaran data itu masih diperdebatkan.
Ada yang berkomentar bahwa buku itu tidak lebih dari kompilasi atas informasi yang tercecer di berbagai media massa. Namun, terlepas dari kekurangannya, keberanian George untuk merilis hasil penelitiannya itu harus disambut positif.
Tentu saja, ini bukan yang pertama kali George menulis soal bisnis para pejabat dan perselingkuhan bisnis dan politik di negeri ini. Sudah sangat sering dia menguak praktik bisnis para presiden yang tidak sehat, termasuk pada masa Presiden Soeharto.
Pekerjaan seperti itu tentu tidak tanpa risiko. Terlalu na�f kalau George melakukan semuanya hanya untuk mendapatkan pujian murahan. Keberanian seperti itu hanya mungkin kalau dia memiliki landasan sikap yang kuat, yakni membela kepentingan publik dari kesewenang-wenangan pemilik modal dan kekuasaan.
Tentu saja adalah hak siapa pun di negeri ini, termasuk mereka yang dirugikan oleh penulis buku ini, untuk membela diri, tak terkecuali dengan menggunakan kekuatan hukum.
George sebagai kritikus sosial bukan malekat yang tentu bisa salah, bisa dikritik bahkan bisa diadili kalau kritiknya berubah menjadi kesewenang-wenangan yang lain.
Terkait dengan kasus Bank Century yang sedang bergulir, keberanian George seharusnya memberi semangat kepada Pansus DPR dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk membuktikan dengan segera dugaan aliran dana dari Bank Century ke sejumlah yayasan dan tim sukes yang terkait dengan Cikeas.
Pembuktian (benar atau salah) harus dilakukan agar bangsa ini tidak terus-menerus hidup dalam rasa saling curiga satu sama lain dan perdebatan yang tidak konstruktif.
Tentu saja ada kemungkinan lain untuk menghentikan kasus ini, yaitu dengan tukar-menukar kepentingan. Misalnya, kasus Bank Century ini dihentikan asalkan kesalahan dari kelompok yang lain tidak diungkit-ungkit, atau kelompok yang lain mendapatkan proyek dan privilese dalam berbisnis.
Untuk itu mereka lalu sepakat membohongi publik. Kebohongan dipakai untuk menutupi kebohongan, kesalahan bertumpuk di atas kesalahan yang lain. Kita lalu membangun sebuah bangsa yang rapuh, karena para pemimpinnya suka pada kesan dan citra yang palsu. Semoga tidak demikian!
Bisnis Cikeas
Reviewed by Bonita
on
05:35:00
Rating:
No comments: